Angel Sign merupakan sebuah omnimbus berdurasi 105 menit yang disutradarai oleh enam sutradara lintas negara. Tsukasa Hojo menjadi sutradara utama pada debut film layar lebarnya. Tsukasa adalah seorang Mangaka atau pembuat komik Jepang yang terkenal dengan seri manga City Hunter miliknya. Sudah lama berkecimpung dalam dunianya, ia telah menjadi legenda pada bidang yang digelutinya sejak tahun 70-an. Ia telah akrab dengan kinerja belantika anime, namun Angel Sign menjadi karya live-action pertamanya.

Film ini mengangkat lima karya manga terbaik pemenang SMA (Silent Manga Audition) Awards, salah satu kompetisi manga terbesar di dunia. Seluruh pengambilan adegan film dibuat di seantero Asia. Sineas dari Thailand, Vietnam, Indonesia, dan tentu saja Jepang bekerja sama membuat karya antologi ini. Nonzee Nimibutr, Ham Tran, Ken Ochiai, Masatsugu Asahi, dan Kamila Andini menjadi sutradara masing-masing segmen pada omnimbus Angel Sign.

Beginning and Farewell karya Ken Ochiai menceritakan kisah masinis dan anjing kesayangannya. Deru keretanya melaju dari jalur sama, melalui depan rumah penuh kenangan bagi masinis. Setiap hari ia memandang balik jendela rumah itu, berharap mengulang kembali kenangannya. Tingkah laku lucu anjing kecil membantu tuannya melalui proses merelakan dengan pemilihan tone warna cantik dijamin menghangatkan mata dan hati penonton. Berikutnya, Sky Sky bercerita tentang seorang gadis kecil juga dengan anjing kesayangan. Ikatan yang terbentuk berbeda dengan kisah masinis. Nonzee Nimibutr, sutradara Sky Sky dari Thailand memoles rasa sayang gadis kecil menjadi lebih personal dengan anjingnya. Mencoba untuk mempertahankan tawa dan senyum gadis kecil saat pergi ke sekolah bersama anjingnya apapun musibah yang menimpa mereka.

Thirty and A Half Minutes berlatar Vietnam, disutradarai Ham Tran menceritakan proses kehamilan bayi. Sosok Grim Reaper akan menjadi tamu tidak diundang di tengah proses itu. Grim Reaper lekat dengan kehilangan dan kematian. Pergulatan calon ibu dan ayah mencegah kehilangan bakal anak mereka mencampuradukkan emosi siapapun penontonnya akan arti kehidupan baru. Berikutnya, Father’s Gift oleh Masatsugu Asahi berkisah tentang hadiah robot dari ayah untuk anak perempuannya. Proses kehilangan sosok ibu mencoba digantikan peran robot sebagai teman baru mereka, namun ternyata robot mereka akan merekam kehilangan baru bagi keluarga tersebut. Perpaduan aspek teknologi dengan segi emosional yang mengharukan.

Kamila Andini dari Indonesia tidak ketinggalan menyumbangkan persepektifnya akan kehilangan dengan segmen berjudul Back Home. Segmen ini menceritakan tentang janji seorang ayah kepada anak perempuannya untuk pulang ke rumah. Zaman perang penuh dengan beragam kehilangan, namun sang ayah akan tetap berusaha memenuhi janji itu. Pendalaman karakter Teuku Rifnu Wikana memerankan sosok ayah menjadi salah satu karakter terbaik dalam film ini. Cerita begitu menggugah akan adanya benih keyakinan dalam sebuah kehilangan. Apapun itu bentuk janjinya, dengan sebuah keyakinan kelak pasti akan terwujud.

Tsukasa Hojo sebagai sutradara utama mengatur prolog dan epilog Angel Sign, tentang kehilangan seorang musisi yang menghubungkan kelima potongan segmen tersebut menjadi satu kesinambungan yang menyayat. Semua cerita dibuat tanpa dialog. Buncahan emosi hanya diselingi dengan aransemen musik Angel Sign. Merefleksikan ingatan, menembus kultur, bahasa, dan latar yang beragam. Kesinambungan menyayat hati seperti apa dan bagaimana hingga akhir rekonsiliasi setiap karakter wajib disimak dalam Angel Sign. Penonton dapat menemukan proses mengatasi sebuah kehilangan saat menghayati proyek omnibus ambisius sepenuh hati ini.

Angel Sign dapat ditonton pada program Special Program: Japan Cinema Continuous. Program ini merupakan sebauah program kerja sama dengan Asia Center Japan Foundation dan merupakan bagian dari Japanese Film Festival 2019 yang dilangsungkan di beberapa titik di Indonesia. (2019)

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis