Aladin (1953) karya Tan Sing Hwat adalah film ulang buat dari Aladin dengan Lampoe Wasiat (1941) karya Wong bersaudara, yang kemudian diulang buat lagi pada 1980 dengan judul Aladin dan Lampu Wasiat oleh Sisworo Gautama Putra. Meskipun film ini dapat mengingatkan kita pada Aladdin, baik film animasi tahun 1992 maupun live action tahun 2019 buatan Disney, Aladin mempunyai jalan cerita yang berbeda. Aladin konon dibuat saat perfilman Indonesia tengah abai terhadap hak cipta. Aladin ini dianggap sebagai ‘gubahan’ (karena ada sentuhan lokalitas) dari cerita Seribu Satu Malam yang konon populer di kalangan masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim karena dibawa oleh para pendatang dari Timur Tengah.

Aladin (A. Hamid Arif) adalah pencopet miskin yang berkeliaran di pasar bersama temannya, Ali. Suatu hari dia bertemu sang Putri (Lottyani), anak raja, dan jatuh cinta. Sementara itu, di istana raja, seorang menteri dan putranya yang merupakan pahlawan perang, sedang berusaha mengatur sang Putri untuk menikah sehingga mereka dapat mengendalikan kerajaan. Namun ternyata mereka bukan satu-satunya yang mengejar takhta, karena ada seorang penyihir jahat (Udjang) yang juga mengincar takhta. Penyihir jahat ini meminta Aladin agar membantunya mendapatkan lampu ajaib, sumber kekuatan tak terlihat. Namun, yang mendapatkannya adalah Aladin. Dibantu teman dan ibunya (Gretiani Hamzah), Aladin berusaha melamar sang Putri agar tak jatuh ke tangan orang lain—tentu dengan bantuan kemistikan lampu ajaib itu. Lampu ajaib itu dapat memberikan kekuatan yang mistik, seperti menghilang, berpindah tempat dalam sekejap, mendatangkan sesuatu, bahkan mendirikan istana.

Ketika menonton Aladin (1953), kita akan dibawa untuk menengok kembali sejarah perfilman Indonesia. Kita akan dibawa pada suasana layaknya drama panggung, bahkan stambul—karena film ini penuh adegan yang bertujuan mengocok perut. Selain itu, film ini disajikan dengan sentuhan musikal, di sepanjang film kita akan menyaksikan beberapa adegan menyanyi. Namun, yang paling khas dari film ini adalah gaya drama panggung yang disuguhkan dengan elok. Set dalam ruangan dan beberapa properti yang dipakai dalam ini seperti sengaja dibuat untuk panggung, beberapa kali pengambilan gambar juga dilakukan di dalam studio. Menilik dari tahun produksinya -yang sudah lebih dari lima puluh tahun-, Aladin (1953) memanfaatkan teknik suntingan yang segar. Hal tersebut nampak pada adegan menghilang dan memperbesar ukuran tubuh pemain, selain itu, film ini juga dapat menunjukkan betapa masyarakat kita masih percaya akan hal-hal yang mistis.

Aladin (1953) merupakan sepercik gambaran mengenai gaya film populer pada tahun 1950-an. Dengan format hitam putih dan aspek rasio sempit, film produksi Studio Golden Arrow ini disutradarai oleh Tan Sing Hwat; salah satu penulis-sutradara yang produktif pada masanya, tetapi kariernya terhenti setelah Peristiwa 1965 akibat dugaan dirinya terkait dengan Lekra. Aladin (1953) direstorasi oleh IdFilmCenter Foundation pada 2017—2019 di Jakarta yang dikoordinasi oleh Lisabona Rahman. Sumber materinya berasal dari koleksi Sinematek Indonesia dengan kondisi yang kurang baik; ada beberapa bagian gambar dan suara yang hilang, tetapi cerita masih utuh. Hasil restorasi film ini sempat tayang di Busan International Film Festival 2019 pada program Busan Classics. Aladin (1953) yang telah direstorasi ini akan ditayangkan di 14th Jogja NETPAC Asian Film Festival “Revival” pada program Layar Klasik. (2019)

 

Ditulis oleh Achmad Muchtar | Disunting oleh vanis