Pada dasarnya, keluarga menjadi rumah bagi setiap orang. Keluarga menjadi tempat pulang bagi yang sedang dilanda duka maupun bahagia. Akan tetapi, tidak semua orang dapat merasakan hal tersebut terhadap keluarganya. Adam, sebuah film berdurasi 19 menit merupakan karya sutradara Shocki Li asal Singapura. Film bergenre drama tersebut menggambarkan kehidupan keluarga yang sedang tidak baik-baik saja. Seringkali kita menemukan keluarga yang masih utuh bersama ataupun sudah berpisah satu sama lain.

Ketidakutuhan sebuah keluarga menjadi sebuah hal yang lumrah untuk masa sekarang ini. Akan tetapi kehadiran orang baru yang tidak sesuai, menimbulkan pertikaian dalam keluarga. Rasa memahami dan memiliki terbenam oleh keegoisan semata. Hal ini dialami oleh Adam (Ayden Liow), di usianya yang duduk di bangku sekolah dasar, dia merasa asing dengan keluarganya sendiri. Meski hidup dengan Bapak dan Ibu barunya yang terbilang utuh, kenyataan yang terjadi keluarganya bersifat semu. Orang tuanya menaruh perhatian lebih pada adik baru Adam.

Saat memiliki waktu untuk keluar rumah, kesempatan itu digunakan Adam untuk menemui Ibu kandungnya. Lari dari rumah adalah satu-satunya cara untuk terhindar dari penderitaan yang dialami oleh Adam. Namun apakah dengan lari, permasalahan akan selesai?Kehadiran anak dalam keluarga menjadi dambaan setiap pasangan. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menaruh perhatian lebih pada satu anak dan menghiraukan yang lainnya akan berdampak buruk pada keduanya. Sifat kecemburuan atau ketergantungan akan tumbuh pada anak yang mendapatkan perlakuan demikian. Selanjutnya, tindakan yang dilakukan adalah cermin balasan atas rasa buruk yang diterimanya. 

Film yang rilis tahun 2019 ini tak memiliki banyak dialog dalam setiap scene-nya. Adegan serta karakter yang kuat pada pemain, terlebih pada Adam selaku tokoh utama menjadikan penonton memahami situasi apa yang sedang terjadi. Adam ditayangkan di 14th Jogja-Netpac Asian Film Festival ‘Revival’ pada program Asian Perspectives – Shorts.

Ditulis oleh Agatha Duhita | Disunting oleh vanis