Mengagumi seseorang adalah hal yang lumrah, namun mengagumi seseorang yang telah bersama orang lain, itu perkara yang berbeda. Firman (Elang El Gibran) adalah pelaku hal ini dalam A Plastic Cup of Tea Before Her (2018). Firman memanifestasikan kekagumannya pada Yanti (Asmara Abigail), pelanggan setia minimarket yang ia jaga. Firman nampaknya begitu mengagumi Yanti hingga ia nekat untuk menembus batas-batas privasi Yanti. Mengamati dari jauh, menguntit, dan menerobos masuk rumah Yanti yang terletak di satu gedung rusun yang sama dengan mini marketnya; kegiatan-kegiatan itu yang Firman lakukan demi memuaskan kekagumannya pada Yanti. 

Suatu hari, Firman menemukan sesuatu yang janggal pada rumah Yanti. Seketika ia meminta tolong pada Pak RT untuk mengusut permasalahan yang terjadi. Hal tersebut bukannya menjadi pencerahan atas kejanggalan tersebut, namun malah menyebabkan Yanti diusir dari rumahnya. Pengusiran tersebut dilatarbelakangi oleh fakta bahwa ternyata Yanti tinggal serumah dengan kekasihnya, yang selama ini diakui sebagai suaminya. Apakah permasalahan utama lantas selesai? Tentu tidak. 

Penyelesaian masalah yang dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam A Plastic Cup of Tea Before Her nampaknya adalah cerminan atas bagaimana hal tersebut terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Respon masyarakat sekitar rusun yang lebih menitikberatkan fokus mereka pada permasalahan kumpul kebo yang dilakukan Yanti dan kekasihnya juga hal yang selaras dengan bagaimana kerja masyarakat dalam kenyataan. Stigma masyarakat merupakan hal yang sejatinya membuat segalanya menjadi runyam. 

A Plastic Cup of Tea Before Her merupakan sebuah film pendek padat pesan tentang bagaimana masyarakat menghadapi isu- isu sensitif yang bergulir di masyarakat. Makbul Mubarak, sang sutradara, sebelumnya telah menelurkan film-film seperti Sugih (2015), Serpong (2015), Irasaimase (2016), dan Ruah (2016). Penghargaan Film Pendek terbaik FFI 2017 didapatkannya melalui film pendeknya berjudul Ruah (2016). A Plastic Cup of Tea Before Her perdana tayang dalam perhelatan Singapore International Film Festival 2018 dan telah mampir ke Cambodia International Film Festival 2019 dan World Cinema Amsterdam 2019. 

Film berdurasi 14 menit ini dapat disaksikan dalam program Asian Perspectives – Shorts di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’. Cari tahu sendiri apa kejanggalan yang ditemukan Firman di rumah Yanti dan ikuti sesi diskusi bersama para pembuat filmnya! (2019)

 

Ditulis oleh Agatha Duhita, vanis | Disunting oleh vanis